TANTANGAN ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC)

Membangun Kualitas Personal

Memiliki peluang berperan di dunia kerja adalah sebuah kesempatan yang sangat didambakan oleh setiap pencari kerja, terutama anak muda yang baru lulus SLTA: punya pekerjaan, punya jabatan, punya gaji sendiri, punya kawan baru, punya pengalaman. Namun, seringkali hal itu tidak diimbangi dengan kecukupan kecakapan sehingga tidak sedikit yang mengalami ganjalan saat menapaki jenjang menuju dunia kerja seiring dengan turbulensi dinamika dunia kerja yang begitu menantang.

Pada fase dimana lulusan SLTA memasuki dunia usaha/dunia industri, perlu dipersiapkan secara matang supaya nantinya dapat berperan dan berkiprah secara optimal. Tantangan yang akan muncul di dunia kerja tidak dapat dikesampingkan apalagi diremehkan. Banyak pencari kerja yang gagal dalam karirnya, banyak juga yang dapat berhasil dan memenangkan persaingan. Dengan demikian, persiapan yang matang menjadi salah satu penentu kemenangan, preperation is half of the process. Mereka yang terjun dan mendalami secara sungguh-sungguh potensi keberhasilannya sangat tinggi, sementara yang hanya mencicipi atau mencoba tanpa effort yang kuat maka hanya akan menjadi bulan-bulanan persaingan dan korban atas dinamika yang ada di dunia kerja.

Lulus SLTA bukanlah akhir dari proses belajar, justru di saat inilah tantangan yang sebenarnya akan dihadapi: apakah mau kuliah ke jenjang D3/S1, apakah mau kerja, ataukah mau berwirausaha? Ketiga pilihan tersebut semuanya baik dan memiliki tingkat persiapan dan resiko masing-masing yang berbeda. Namun, era ASEAN Economic Community (AEC) membutuhkan kualitas SDM yang mumpuni sehingga -hemat saya- tidak cukup hanya berbekal pendidikan SLTA untuk bersaing, harus ada nilai tambah dalam kompetensi dan pengetahuan. Untuk itu, kuliah menjadi sebuah pilihan yang bijak dan sebuah keniscayaan yang harus diputuskan. Dengan berbekal pendidikan minimal D3 atau S1, kita akan lebih matang dan siap mengjadapi setiap fase persaingan.

Tahun 2015 sebagai fase dimulai persaingan antar negara Asean melalui kesepahaman dalam forum Asean Economic Community (AEC) akan menjadi tantangan yang cukup berat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri dengan sangat baik. Persaingan tidak lagi antar tenaga kerja lokal, pelaku bisnis yang ada tidak lagi pemain lokal namun sudah antar negara di tingkal regional 10 negara Asean. Sehingga, diperlukan bekal kompetensi dan kualitas personal yang baik agar nantinya tidak tersingkir dari arena persaingan.

Kualitas personal harus dibangun sedemikian rupa sehingga secara pribadi benar-benar siap dalam setiap keadaan. Kualitas yang dibangun tersebut meliputi softskill; karena softskill ini yang memegang peranan penting dalam memenangi persaingan dunia kerja. Mereka yang gagal tidak hanya karena kualitas akademisnya kurang, namun biasanya karena faktor kecil yang kurang diperhatikan: capa berpakaian, kesopanan, empati, hormat, dll.

Berikut beberapa kualitas personal yang harus dipersiapkan dengan matang:

  1. Kreativitas (Creativity) faktor ini akan membawa seseorang pada tingkat kesempurnaan dalam melakukan pekerjaan, mampu mencapai target yang diharapkan dengan sangat baik. Cara yang dilakukan unik, kreatif, baru, beda, memiliki daya saing dan dapat diperhitungkan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan atau persoalan.
  2. Terbuka pada perubahan (Open mind), perubahan tidak bisa dihindarkan, perubahan akan terjadi kapan saja dan dimana saja. Mereka yang open mind sajalah yang akan mampu bertahan dan menyesuikan dengan perubahan yang terjadi.
  3. Peduli (Care). Beres atau tidaknya pekerjaan terkadang dipengaruhi oleh kepedulian dari pegawai yang lain. Seorang pegawai yang baik pasti dan harus memiliki tingkat kepedulian yang tinggi.
  4. Kerjasama tim (Teamwork). Tidak ada seorangpun yang dapat hidup sendirian, yang dapat menuntaskan pekerjaan sendirian dengan sempurna, butuh bantuan orang lain, butuh uluran tangan orang lain. Prinsipnya adalah kolektif-kolegial atau saling melengkapi, saling menguatkan, saling mengisi, saling memberi, saling melengkapi, saling memberi-menerima.
  5. Hormat, santun, loyalitas. Kualitas ini yang jarang dimiliki oleh pencari kerja pemula yang hanya bermodalkan skill dari pendidikan akademisnya. Padahal justru 3 kualitas inilah yang juga akan menjadi faktor penentu terhadap keberhasilan seseorang dalam perjalanan karirnya.
  6. Kemampuan membangun jaringan (Networking), hal ini untuk mendukung proses percepatan karir dan pengembangan bisnis. Bekerja dimanapun dan usaha jenis apapun mutlak membutuhkan jaringan, semakin luas jaringan kemitraan dan koneksi maka semakin baik prospek promosi diri ke depan.
  7. Menerima perbedaan (Accept Diversity). Tidak ada satupun manusia di dunia yang dilahirkan dengan sifat yang sama, karakter yang sama, pola pikir dan cara pandang yang sama. Perbedaan-perbedaan itu akan melembaga dalam sebuah perusahaan. Seorang pegawai dituntut untuk dapat menyesuaikan dan menerima perbedaan itu sebagai bagian dari integrasi kehidupan perusahaan.

Terimakasih. Salam Sukses…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *